Blog

Sumpah Pemuda: Warisan Persatuan untuk Pemimpin Hari Ini

New Signature
Inspirasi / Kebangsaan

Sumpah Pemuda: Warisan Persatuan untuk Pemimpin Hari Ini

Sembilan puluh delapan tahun setelah ikrar pemuda diucapkan, pelajaran persatuan itu masih punya tempat di ruang rapat dan ruang kerja.

Setiap 28 Oktober, kalender nasional menandai satu peristiwa yang sering direduksi menjadi upacara dan slogan. Padahal yang terjadi di Jakarta pada 1928 adalah sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkan ikrar. Ratusan pemuda dari latar bahasa, suku, dan kepentingan organisasi yang berbeda duduk bersama dan sepakat pada satu arah. Bagi siapa pun yang pernah mencoba menyatukan tim dengan latar belakang berbeda di satu perusahaan, keputusan semacam itu jauh dari sederhana.

Tiga Kalimat, Satu Keputusan Bersama

Kongres Pemuda II berlangsung dua hari, 27 dan 28 Oktober 1928, dihadiri perwakilan organisasi pemuda dari berbagai daerah seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan Jong Ambon. Peserta kongres datang dengan bahasa ibu, adat, dan kepentingan organisasi masing-masing yang tidak selalu sejalan. Hasil kongres akhirnya dirumuskan dalam tiga butir ikrar:

  • Bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
  • Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
  • Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Pada malam penutupan, W.R. Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya secara instrumental menggunakan biola. Liriknya dianggap terlalu sensitif untuk dinyanyikan terbuka di hadapan pengawas kolonial saat itu. Lagu tersebut baru dipublikasikan lengkap dengan liriknya di surat kabar Sin Po tidak lama setelah kongres berakhir.

Fakta sejarah ini menyimpan pelajaran yang relevan bagi siapa saja yang memimpin organisasi lintas generasi dan lintas latar belakang hari ini. Kesepakatan besar jarang lahir dari keseragaman. Ia lahir dari kesediaan berbagai pihak menyetujui tujuan yang sama, meskipun jalan menuju ke sana berbeda-beda.

Dari Ikrar ke Operasional Harian

Banyak organisasi memiliki visi yang tertulis rapi di dinding kantor, tetapi gagal menerjemahkannya ke keputusan sehari-hari. Ikrar tanpa eksekusi hanya menjadi dokumen sejarah, baik untuk sebuah bangsa maupun untuk sebuah perusahaan. Gejalanya biasanya terlihat sederhana: rapat lintas divisi berakhir dengan kesepakatan di atas kertas, tetapi keputusan harian di lapangan tetap jalan sendiri-sendiri. Beberapa langkah yang biasanya membedakan organisasi yang benar-benar bersatu dari yang hanya mengaku bersatu:

  • Menyamakan pemahaman tentang “tujuan bersama” di semua level tim, bukan hanya di level pimpinan
  • Memberi ruang bagi perbedaan cara kerja antardepartemen selama arah akhirnya tetap sama
  • Mengevaluasi secara berkala apakah keputusan harian masih sejalan dengan visi awal perusahaan
Regenerasi yang Tidak Boleh Berhenti

Para penggagas Sumpah Pemuda rata-rata berusia dua puluhan tahun ketika merumuskan ikrar tersebut. Soegondo Djojopoespito, ketua kongres saat itu, baru berusia 23 tahun. Kaderisasi bukan topik baru dalam sejarah bangsa ini. Ia menjadi fondasi yang membuat pergerakan nasional terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya, jauh sebelum kata “suksesi” dipakai dalam konteks bisnis.

Di banyak perusahaan keluarga dan organisasi bisnis di Indonesia, pertanyaan tentang siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan sering ditunda sampai menjadi krisis. Kaderisasi kepemimpinan idealnya berjalan sebagai proses yang berkelanjutan, bukan keputusan darurat ketika pemimpin lama mendadak harus mundur.

Beberapa langkah yang bisa dimulai sejak sekarang:

  • Mengidentifikasi calon pemimpin dari level operasional, bukan hanya dari struktur formal
  • Memberi tanggung jawab secara bertahap sebelum memberi jabatan penuh
  • Membangun budaya organisasi yang tetap bertahan meski orangnya berganti

“Kesatuan lahir ketika orang-orang dari latar berbeda sepakat bergerak ke arah yang sama.”

Ikrar yang Terus Diuji

Ikrar yang diucapkan pada 1928 masih menjadi ujian berulang bagi tiap generasi: apakah kita bersedia menyatukan arah ketika kepentingan masing-masing berbeda. Pertanyaan itu berlaku sama untuk pemuda di tahun 1928 dan untuk pemimpin bisnis hari ini yang mengelola tim lintas usia, lintas daerah, dan lintas cara pandang.

Cara paling berarti merayakan Sumpah Pemuda adalah memeriksa ulang sejauh mana organisasi yang kita pimpin hari ini benar-benar menyatu pada satu arah. Visi yang hanya tertulis di dinding kantor, tanpa pernah diuji dalam keputusan sehari-hari, akan berhenti menjadi kalimat kosong. Sembilan puluh delapan tahun setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, pertanyaan itu masih layak diajukan ulang setiap kali sebuah tim duduk satu meja untuk memutuskan arah bersama.

BACA SERI LAINNYA: Ketimpangan Ekonomi dan Tercekiknya Kelas Menengah Indonesia