Blog

Kelas Menengah Indonesia: Antara Tekanan dan Harapan

Kelas Menengah Indonesia Antara Tekanan dan Harapan
Sosiologi Ekonomi

Kelas Menengah Indonesia: Antara Tekanan dan Harapan

Setiap pagi, jutaan pekerja kantoran, pedagang kecil, dan pegawai swasta di berbagai kota di Indonesia berangkat dengan harapan yang sama, yaitu mempertahankan gaya hidup layak di tengah harga kebutuhan yang terus naik. Mereka adalah representasi nyata dari kelas menengah, kelompok masyarakat yang selama ini disebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Namun, di balik peran pentingnya, kelas menengah Indonesia kini menghadapi tekanan yang tidak ringan, bahkan menunjukkan tren penyusutan dalam beberapa tahun terakhir.

Apa Itu Kelas Menengah?

Secara umum, kelas menengah dipahami sebagai kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan di antara kelompok miskin atau rentan miskin dan kelompok kaya. Meski demikian, definisi persisnya ternyata tidak sesederhana itu. Sebuah kajian ilmiah yang terbit di jurnal PMC (National Library of Medicine) menyebutkan bahwa jarang ada konsep ekonomi yang sekabur dan sesulit didefinisikan seperti kelas menengah.

Beberapa lembaga menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengukurnya, di antaranya:

  • OECD mendefinisikan kelas menengah sebagai rumah tangga dengan penghasilan antara 75 persen hingga 200 persen dari median pendapatan nasional.
  • BPS mencatat garis kemiskinan nasional sebesar Rp609.160 per Maret 2025, sehingga kelas menengah dikategorikan sebagai kelompok dengan penghasilan Rp2.132.060 hingga Rp10.355.720 per kapita per bulan.
  • BPS bersama Mandiri Institute membagi penduduk menjadi lima kelompok, yaitu miskin, rentan miskin, menuju kelas menengah, kelas menengah, dan kelas atas, berdasarkan rasio pengeluaran terhadap garis kemiskinan.

Kelas menengah bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kesehatan ekonomi sebuah negara.

Mengapa Kelas Menengah Penting bagi Perekonomian

Kelas menengah kerap disebut sebagai penopang utama ekonomi karena beberapa alasan berikut:

  • Motor konsumsi domestik, karena daya beli yang lebih tinggi membuat kelompok ini menjadi penggerak konsumsi di sektor ritel, properti, pariwisata, hingga pendidikan.
  • Penyeimbang struktur ekonomi, sebab secara historis kelas menengah di negara maju menjadi basis stabilitas sosial dan politik.
  • Indikator pembangunan, karena porsi kelas menengah yang besar dianggap sebagai tanda sebuah negara telah keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.

Tren Global: Kelas Menengah yang Makin Terhimpit

Fenomena tekanan terhadap kelas menengah bukan hanya terjadi di Indonesia. Laporan flagship OECD tahun 2019 berjudul “Under Pressure: The Squeezed Middle Class” mengungkap bahwa rata-rata proporsi rumah tangga berpendapatan menengah di negara OECD turun dari 64 persen menjadi 61 persen antara pertengahan 1980-an dan pertengahan 2010-an.
Selain itu, rasio pendapatan agregat kelas menengah terhadap kelas atas juga turun dari empat kali lipat menjadi kurang dari tiga kali lipat dalam tiga dekade. Penyebabnya beragam, mulai dari pertumbuhan pendapatan yang stagnan, otomatisasi teknologi yang menggerus pekerjaan skala menengah, hingga kenaikan biaya perumahan yang lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan.

Baca Juga : Memberi Harapan: Bagaimana Pembiayaan Syariah Mengangkat Martabat Usaha Mikro 

 

Kondisi Kelas Menengah di Indonesia

Data resmi BPS menunjukkan tren serupa, bahkan cenderung lebih tajam. Berdasarkan analisis CNBC Indonesia pada Januari 2026, jumlah kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Kondisi ini diperparah oleh konsentrasi pekerja di sektor berproduktivitas rendah seperti perdagangan, pertanian, dan jasa, sehingga pendapatan rumah tangga cenderung stagnan.

Data terbaru dari GoodStats dan Mandiri Institute pada 2025 bahkan menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia, yakni 50,4 persen dari total populasi, kini berada pada kelompok “menuju kelas menengah”. Artinya, lebih dari separuh penduduk Indonesia belum benar-benar mapan secara ekonomi.

 

Fakta Menarik Seputar Kelas Menengah Indonesia

Beberapa temuan berikut memperlihatkan sisi lain dari kelas menengah yang jarang disorot:

  • Hanya 60 persen generasi milenial yang tergolong kelas menengah, dibanding 70 persen generasi baby boomer pada usia yang sama.
  • Lebih dari satu dari lima rumah tangga kelas menengah membelanjakan lebih besar dari yang mereka hasilkan, sehingga tingkat utang berlebih justru lebih tinggi dibanding kelompok berpendapatan rendah maupun tinggi.
  • Rata-rata gaji lulusan S1 hingga S3 di Indonesia per November 2025 hanya Rp4,63 juta, jumlah yang rentan bagi rumah tangga dengan banyak tanggungan.
  • Pertumbuhan konsumsi kelas menengah pada 2025 hanya 4,1 persen, sementara belanja untuk ponsel melonjak 31 persen dan transportasi naik 22 persen.
  • Pinjaman daring tumbuh 25 persen per tahun mencapai Rp96,6 triliun, sementara pembiayaan gadai naik 48 persen menjadi Rp130 triliun hingga Desember 2025.
  • Hanya 59 persen pekerja kelas menengah Indonesia yang memiliki pekerjaan formal pada 2024, dan seperempat di antaranya tergolong setengah menganggur.

 

Harapan Pemulihan dari Pemerintah

Di tengah tren yang menekan, pemerintah tetap menyampaikan optimisme. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pendapatan dan jumlah kelas menengah Indonesia diperkirakan akan kembali tumbuh pesat dalam satu hingga dua tahun ke depan. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang sempat stagnan di bawah 5 persen, sehingga memicu deindustrialisasi dan minimnya lapangan kerja formal.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, di antaranya:

  • Mendorong industrialisasi dan hilirisasi guna membalikkan tren deindustrialisasi, khususnya pada sektor padat karya seperti tekstil.
  • Menyalurkan dana Saldo Anggaran Lebih ke perbankan komersial untuk menekan suku bunga kredit dan mendorong ekspansi sektor riil.
  • Memberikan pembebasan pajak bagi UMKM tertentu serta membentuk Satgas
  • Debottlenecking untuk mengatasi hambatan perizinan usaha.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, bahkan secara bertahap mengejar 8 persen, karena angka pertumbuhan di atas 6,5 persen dinilai sebagai ambang batas penting untuk menciptakan lapangan kerja formal secara berkelanjutan.

 

Kesimpulan

Kelas menengah tetap menjadi elemen krusial dalam menopang stabilitas ekonomi Indonesia, meski saat ini tengah menghadapi tekanan daya beli dan risiko utang yang meningkat. Data menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah menyusut, sementara sebagian besar penduduk justru berada pada posisi transisi menuju kelompok tersebut. Oleh karena itu, penguatan lapangan kerja formal dan percepatan pertumbuhan ekonomi menjadi kunci agar kelas menengah dapat kembali tumbuh dan berperan optimal.

Ke depan, keberhasilan strategi pemerintah dalam mendorong industrialisasi, menekan suku bunga, dan memperluas kesempatan kerja formal akan sangat menentukan apakah kelas menengah Indonesia mampu bangkit sesuai target, atau justru semakin terhimpit oleh tekanan biaya hidup yang terus meningkat.