Blog

Pendapatan Kelas Menengah Indonesia: Fakta di Balik Angka

ChatGPT Image 29 Sep 2026, 15.30.59 - Copy
Sosiologi Ekonomi

Pendapatan Kelas Menengah Indonesia: Fakta di Balik Angka

Setiap bulan, jutaan keluarga Indonesia menghitung ulang pengeluaran mereka agar tetap bertahan di tengah harga kebutuhan yang terus naik. Banyak dari mereka sebenarnya masuk kategori kelas menengah menurut data resmi, meski kondisi hidup terasa jauh dari kata nyaman. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting. Seberapa besar sebenarnya pendapatan kelas menengah di Indonesia dibandingkan standar dunia?

 

Standar Pendapatan Kelas Menengah Menurut BPS

Badan Pusat Statistik mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok dengan pengeluaran antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan. Definisi ini menghasilkan rentang nominal yang berubah setiap tahun mengikuti inflasi dan kondisi ekonomi.

Beberapa angka resmi yang tercatat antara lain:

  • Tahun 2024, rentang pengeluaran per kapita per bulan berada di Rp2.040.262 hingga Rp9.909.844.
  • Tahun 2025, angkanya naik menjadi Rp2.132.060 hingga Rp10.355.720.
  • Pada September 2025, versi lain merujuk data World Bank mencatat kisaran Rp2,08 juta hingga Rp10,12 juta.

Meski rentang atasnya terlihat tinggi, kenyataan di lapangan berbeda. Rata-rata pengeluaran riil kelas menengah pada 2024 hanya sekitar Rp3,35 juta per bulan. Angka ini memang meningkat 142 persen dibanding 2019 yang sebesar Rp2,36 juta, namun tetap jauh dari batas atas resmi.

“Pendapatan rumah tangga kelas menengah hanya sekitar Rp3,3 juta per bulan. Kemampuan menabung untuk pendidikan hanya sekitar Rp435 ribu.”

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar kelas menengah Indonesia sebenarnya berada di batas bawah kategori. Akibatnya, ruang belanja untuk kebutuhan selain pendidikan dan konsumsi dasar menjadi sangat terbatas.

 

Standar Pendapatan Kelas Menengah secara Global

Berbeda dari BPS yang berbasis garis kemiskinan nasional, Pew Research Center memakai standar daya beli internasional atau purchasing power parity. Oleh karena itu, hasil perbandingannya juga cukup berbeda.

Menurut Pew, kategori pendapatan global terbagi sebagai berikut:

  • Miskin, dengan pengeluaran di bawah 2 dolar AS per hari.
  • Berpendapatan rendah, pada kisaran 2,01 hingga 10 dolar AS per hari.
  • Menengah, pada kisaran 10,01 hingga 20 dolar AS per hari.
  • Menengah atas, pada kisaran 20,01 hingga 50 dolar AS per hari.
  • Berpendapatan tinggi, di atas 50 dolar AS per hari.

Untuk keluarga beranggotakan empat orang, kategori menengah setara pendapatan tahunan sekitar 14.600 hingga 29.200 dolar AS. Sementara itu, lembaga lain punya definisi yang lebih longgar. Goldman Sachs misalnya menetapkan rentang 16 sampai 82 dolar AS per hari. Sementara itu, Brookings Institution memakai rentang 10 sampai 100 dolar AS per hari.

 

Fakta Menarik seputar Pendapatan Kelas Menengah

Selain data angka, ada beberapa temuan lain yang layak diperhatikan. Berikut rangkumannya:

  • Kelas menengah global ternyata tergolong kecil. Hanya 17 persen populasi dunia masuk kategori ini pada 2020, sedangkan 51 persen masih berpendapatan rendah.
  • Definisi menengah global lebih rendah dari garis kemiskinan Amerika Serikat.
  • Banyak keluarga yang dianggap miskin di AS justru masuk kategori menengah menurut standar dunia.
  • Upah riil pekerja Indonesia justru menurun. Bank Dunia mencatat penurunan rata-rata 1,1 persen per tahun sepanjang 2018 hingga 2024.
  • Gelar sarjana tidak lagi menjamin status aman secara ekonomi. Rata-rata gaji lulusan S1 hingga S3 pada November 2025 hanya sekitar Rp4,63 juta.
  • Pandemi menghantam kelas menengah India paling parah, dengan penyusutan sekitar 32 juta orang pada 2020.
  • Sebaliknya, China menjadi motor pertumbuhan kelas menengah dunia dengan tambahan 203 juta orang antara 2001 dan 2011.
  • Pola belanja kelas menengah Indonesia mulai bergeser ke gaya hidup digital, ditandai lonjakan pembelian ponsel sebesar 31 persen pada 2025.

Perubahan pola belanja ini menarik untuk dicermati. Meski konsumsi total kelas menengah hanya tumbuh 4,1 persen, alokasi untuk transportasi justru naik 22 persen. Sementara itu, konsumsi pangan nyaris stagnan di angka 0,9 persen, menandakan tekanan pada kebutuhan dasar tetap tinggi.

 

Kesimpulan

Data menunjukkan bahwa pendapatan kelas menengah Indonesia berada dalam posisi yang rentan. Meski secara definisi resmi rentangnya cukup lebar, mayoritas masyarakat justru berada dekat batas bawah. Kondisi ini diperparah oleh stagnasi upah riil dan biaya hidup yang terus meningkat.

Dibandingkan standar global, posisi kelas menengah Indonesia juga belum sepenuhnya stabil. Oleh karena itu, penguatan daya beli menjadi kunci penting. Perluasan lapangan kerja berkualitas juga diperlukan agar kelompok ini tidak mudah tergelincir ke kategori berpendapatan rendah.

Memahami data pendapatan kelas menengah membantu kita melihat gambaran ekonomi yang lebih utuh. Angka statistik memang penting, tetapi realita di lapangan sering kali berbicara lebih jujur tentang tantangan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.