6 Strategi Pertumbuhan Sukma Rasa: Peta Jalan Ekspansi
Aug 17, 2026 2026-08-19 12:076 Strategi Pertumbuhan Sukma Rasa: Peta Jalan Ekspansi
Menutup seri dengan peta jalan pertumbuhan Sukma Rasa, dari menjaga pelanggan setia hingga merebut hati pasar yang paling sulit dijangkau
Artikel sebelumnya membahas bagaimana Sukma Rasa bertahan dari tekanan kompetitor. Namun, bertahan saja tidak cukup bagi sebuah merek yang ingin terus berkembang. Strategi pertumbuhan Sukma Rasa hadir untuk menjawab kebutuhan ini. Enam strategi ini memetakan langkah Sukma Rasa dari mempertahankan pelanggan setia, hingga menjangkau pasar yang paling sulit ditembus.
Sebagai artikel penutup seri, pembahasan ini juga akan menghubungkan kembali seluruh materi dari sebelas artikel sebelumnya. Selain itu, pembahasan turut dibandingkan dengan Ansoff Growth Matrix, kerangka pertumbuhan bisnis klasik yang telah digunakan sejak 1957.
Enam Tingkatan Strategi Pertumbuhan Sukma Rasa
Buku panduan strategi Sukma Rasa menyusun strategi pertumbuhan ke dalam enam tingkatan yang berjenjang.
Tingkat pertama adalah JAGA, yang berfokus pada pelanggan yang sudah ada. Contohnya adalah program loyalitas “Sahabat Sukma Rasa” yang telah dibahas pada artikel kedua.
Tingkat kedua adalah CEGAT, yang menyasar calon pelanggan yang hampir menjadi pelanggan tetap. Salah satu taktiknya adalah “Paket Kenal Sukma Rasa,” yaitu kumpulan menu ikonik dalam satu paket perkenalan.
Tingkat ketiga adalah PIKAT, yang berupaya menggeser pasar yang sebelumnya tidak mencari kuliner Sasak. Strategi ini menghadirkan “Sasak Culinary Experience” agar kuliner lokal terasa layak dinikmati siapa saja.
Tingkat keempat adalah GARAP, yang menggarap pasar wisatawan dan segmen MICE yang belum tersentuh. Contohnya adalah kemitraan dengan travel agent dan paket khusus untuk acara perusahaan berskala besar.
Tingkat kelima adalah USUT, yang menjangkau audiens yang bahkan belum menyadari keberadaan kuliner Sasak. Taktiknya meliputi konten digital bertajuk “Discover Sasak Food” dan uji pasar di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Tingkat keenam adalah REBUT, yang berupaya meyakinkan kelompok yang selama ini menghindari kuliner Sasak karena persepsi terlalu pedas. Strategi ini menghadirkan “Sasak Tasting Experience” agar mereka dapat mencoba tanpa harus berkomitmen pada satu menu penuh.
Ansoff Growth Matrix: Risiko yang Meningkat Seiring Jarak dari Pasar
Struktur berjenjang dalam strategi pertumbuhan Sukma Rasa ini sejalan dengan logika Ansoff Growth Matrix, kerangka yang dikembangkan Igor Ansoff pada 1957. Ansoff memetakan pertumbuhan bisnis ke dalam empat kuadran, yaitu penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan diversifikasi. Semakin jauh sebuah strategi bergerak dari pasar dan produk yang sudah dikenal, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung.
Prinsip yang sama berlaku pada keenam tingkat strategi pertumbuhan Sukma Rasa. JAGA dan CEGAT beroperasi di wilayah yang paling familiar, yaitu pelanggan yang sudah mengenal merek ini. Sebaliknya, USUT dan REBUT bergerak ke wilayah yang jauh lebih asing, yaitu audiens yang belum mengenal atau bahkan menghindari kuliner Sasak.
“Portofolio pertumbuhan yang sehat dibangun dari fondasi yang aman, sebelum melangkah ke wilayah yang lebih menantang.”
Dari JAGA Menuju REBUT: Portofolio Pertumbuhan yang Sehat
Riset mengenai penerapan Ansoff Growth Matrix menunjukkan bahwa portofolio pertumbuhan yang sehat biasanya memiliki fondasi kuat di strategi berisiko rendah. Sementara itu, hanya sebagian kecil sumber daya yang dialokasikan pada strategi berisiko tinggi. Prinsip ini tampaknya turut dipegang Sukma Rasa, karena JAGA dan CEGAT tetap menjadi fondasi yang menghasilkan pendapatan stabil, sementara USUT dan REBUT diperlakukan sebagai eksperimen bertahap menuju pasar baru.
Dengan demikian, keenam tingkat ini bukan enam strategi yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan satu portofolio pertumbuhan yang saling menyeimbangkan risiko dan potensi.
Menutup Seri: dari Sejarah Menuju Visi Besar Sukma Rasa
Seri dua belas artikel ini dimulai dari sejarah Asmuni sebagai purna PMI yang membangun warung sederhana di Labuapi. Perjalanan itu kini bermuara pada strategi pertumbuhan yang membawa Sukma Rasa menuju BHAG-nya, yaitu menjadi ikon warisan kuliner Lombok yang diakui secara nasional dan internasional. Sepanjang seri ini, pendampingan Coach Dr. Fahmi selaku corporate coach turut membantu merumuskan kearifan bisnis yang tadinya berjalan alami menjadi kerangka kerja yang terstruktur dan dapat direplikasi di setiap cabang.
Dari relationship, exposure, dan business impact, hingga competitive strategy dan growth strategy, setiap elemen dalam seri ini saling terhubung membentuk satu arsitektur merek yang utuh.
Ringkasan Poin-Poin Penting
- Strategi pertumbuhan Sukma Rasa terdiri dari enam tingkat, yaitu JAGA, CEGAT, PIKAT, GARAP, USUT, dan REBUT.
- Struktur ini sejalan dengan Ansoff Growth Matrix (1957), yang menegaskan bahwa risiko meningkat seiring jarak dari pasar yang sudah dikenal.
- Portofolio pertumbuhan yang sehat menempatkan fondasi kuat pada strategi berisiko rendah, seperti JAGA dan CEGAT.
- Strategi berisiko tinggi, seperti USUT dan REBUT, diperlakukan sebagai eksperimen bertahap menuju pasar baru.
- Seluruh seri dua belas artikel ini membentuk satu arsitektur merek yang bermuara pada visi besar Sukma Rasa sebagai ikon kuliner Lombok.
Kesimpulan
Strategi pertumbuhan Sukma Rasa menutup seri ini dengan menunjukkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan tidak pernah terjadi secara tergesa-gesa. Sebaliknya, pertumbuhan itu dibangun bertahap, dari menjaga yang sudah dimiliki hingga berani merebut yang paling sulit dijangkau. Dari sejarah seorang purna PMI hingga strategi pertumbuhan yang terstruktur, perjalanan Sukma Rasa membuktikan bahwa merek yang kuat lahir dari keseimbangan antara akar yang dijaga dan keberanian untuk terus bertumbuh.
BACA SERI SEBELUMNYA:
